PENGEMBANG OBJEK WISATA DI DESA POLAMAN SETELAH PANDEMI COVID-19

 


Bermula dari sebuah desa kecil yang mengembangkan sebuah wisata alam pada awal tahun 2019. Desa ini adalah Desa Polaman yang berada di Kelurahan Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Wisata alam yang dikembangkan di Desa Polaman ini adalah river tubing atau susur sungai, terdapat juga wisata pemandian yang airnya berasal dari mata air yang jernih dan segar di Desa Polaman ini.

Wisata alam berupa river tubing dan pemandian mata air ini menurut saya merupakan pilihan yang tepat untuk dikembangkan di Desa Polaman. Mengapa demikian, karena selain di desa ini masih asri dan masih terdapat banyak pepohonan, yang mana hal tersebut akan memikat para masyarakat perkotaan yang ingin menikmati udara segar dipedesaan. Desa Polaman ini juga bersebelahan langsung dengan sungai yang cukup luas, jadi karena hal tersebut lah yang menurut saya pilihan yang tepat untuk mengembangkan wisata river tubing dan pemandian.

Tetapi sungai yang berada di Desa Polaman ini bukan sungai yang memiliki air cukup jernih, hanya sedikit keruh hal tersebut bukan disebabkan karena limbah. Hanya disebabkan karena aliran air yang deras sedangkan kedalaman sungai yang tidak terlalu dalam, menyebabkan lumpur yang ada di bawah permukaan sungai naik sehingga terlihat keruh. Karena wisata river tubing ini menyusuri sungai dari start sampai finish adalah sekitar 2 km, pengelola wisata Polaman River Tubing ini harus sering menyusuri rute untuk memeriksa keadaan sungai dan membersihkan jika menemukan sampah-sampah.

Ternyata setiap para pengelola wisata ini melakukan pemeriksaan ke sungai secara langsung pasti menemukan sampah-sampah dalam jumlah yang cukup banyak, terutama sampah plastik. Seharusnya kita sebagai manusia mampu menjaga kondisi alam dengan baik, agar alam juga dapat menerima sikap kita dengan baik juga. Bukan malah membuang limbah ke sungai dan membuang sampah sembarangan kesungai, yang nantinya dapat merugikan manusianya itu sendiri. Sungai menjadi bau jika manusia membuang limbah terutama cairan kimia ke sungai, dan akan terjadi banjir jika manusia terus-terusan membuang sampah sembarangan ke sungai. Informasi tersebut saya dapatkan ketika saya mewawancarai pengelola objek wisata Polaman River Tubing.

Objek wisata yang ada di Desa Polaman ini dibangun awal mula benar-benar berfokus pada river tubing atau menyusuri sungai dengan menggunakan ban dalam mobil dengan perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan helm yang lengkap, dan tentu saja dengan didampingi oleh pengelola Polama River Tubing. Pada awal dibukanya wisata river tubing yang berarti awal tahun 2019 sampai awal tahun 2020 sebelum virus corona masuk ke Negara Indonesia setiap weekend atau hari libur pasti ada 4-8 rombongan yang datang untuk berwisata river tubing. “Ada juga mas wisatawan dari Tangerang yang lagi liburan di Jogja nyempetin buat coba keseruan wisata river tubing disini”, kata bapak wagiran saat bercerita dengan saya tentang awal mula pembukaan Polaman River Tubing di awal tahun 2019.

Saat virus corona mulai masuk ke Indonesia karena orang-orang mulai takut untuk keluar rumah ditambah lagi himbauan dari pemerintah pusat Indonesia agar tetap dirumah, suasana di objek wisata Polaman River Tubing ini mendadak langsung sepi pengunjung. Setelah beberapa bulan tidak bisa membuka objek wisata akhirnya sudah ada himbauan dari pemerintah bahwa semua objek wisata sudah bisa dibuka kembali. Dan upaya yang dilakukan dari pihak pengelola wisata di Desa Polaman adalah membangun objek wisata baru yaitu pemandian mata air, dan tempat yang dibangun untuk pemandian dari mata air murni ini berada di garis start objek wisata sebelumnya yaitu river tubing di Desa Polaman.

Untuk saat ini pembangunan wisata pemandian mata air ini dibuka hanya untuk anak-anak yang bertempat tinggal di Desa Polaman atau di sekitar Desa Polaman, setiap orang cukup membayar Rp. 2000,- dan sudah bisa berenang-renang dan bersenang-senang di pemandian mata air yang menyegarkan. Pemandian ini awal di bangun sekitar pertengahan tahun 2020 ketika pemerintah sudah menetapakan era new normal, semakin berjalannya waktu pihak pengelola wisata sedikit demi sedikit membangun area wisata pemandian dengan membuat gazebo, mempercantik area dengan membuat lukisan alam, dan menumbuhi rumput-rumput sebagai upaya menambah kesan penghijauan.

Bapak Wagiran selaku ketua pengelola objek wisata di Desa Polaman dan mewakili seluruh tim yang turut serta membangun objek wisata, berharap corona segera hilang dan hidup kembali berjalan seperti biasanya lagi. Tidak perlu resah takut terkena virus corona, walaupun pihak pengelola wisata sebenarnya sudah mempersiapkan protokol kesehatan dengan baik seperti kawasan wajib masker, menyediakan handsanitizer, tempat cuci tangan banyak penjuru, termogun untuk setiap pengunjung. Tetapi tetap saja dirasa hanya dengan menjaga protokol kesehatan 3 m itu masih kurang untuk terhindar dari virus corona ini. Selain jika dunia sudah kembali pulih dan wisatawan mulai banyak berdatangan pihak pengelola mempunyai impian untuk kedepannya ingin membangun tempat wisata warung kopi dan restoran dengan nuansa alam, hal tersebut ingin dilakukan pihak pengelola untuk mampu membuka lapangan pekerjaan yang banyak terutama untuk masyarat yang tinggal di Desa Polaman.


Wildan Taruna Wikastara

0 Komentar