Masalah
terbesar di kampungan Sukapakir adalah kemiskinan menurut sensus tahun 1980.
Dari kemiskinan kemudian melebar menjadi kriminalitas, pengangguran dan kasus
sosial yang beragam lagi. Bentuk kriminalitasnya pun semakin meningkat tiap
tahunnya. Faktor lainnya adalah tingkat urbanisasi yang tinggi setiap tahunnya
menjadikan angka kemiskinan kampung Sukapakir meningkat drastis.
Sempitnya
lapangan pekerjaan menjadikan tingkat kemiskinan semakin tidak terbendung dan
ditambah lagi dengan urbanisasi yang terus bertambah semakin banyak orang
pengangguran yang sulit mencari pekerjana. ada banyak yang tetap berjuang mengubah
nasib mereka namun tidak sedikit pula yang memilih kembali kekampung halaman
mereka masing-masing.
Banyak
usaha yang dilakukan mereka untuk bertahan hidup, mulai dari usaha
kecil-kecilan sebagai warung dan ada juga yang memilih berjualan keliling, ada
pula yang menjadi buruh. Sayangnya usaha seperti warung dan usaha kecil yang
berkeliling untuk mencari pembeli semakin banyak diikuti orang lain. Semakin
banyak pesaing maka semakin kecil pula pembeli di satu warung ini juga yang
menjadi faktor usaha seseorang berakhir gulung tikar.
Kegiatan
agama yang kurang juga menjadi alasan penduduk Sukapakir sangat gila dengan
harta dan berambisi lebih pada uang. Lembaga-lembaga keagamaan juga terlalu
masuk dalam ranah politik sampai waktu untuk mengembangkan pemahaman agama
untuk masyarakat tidak berkembang baik. Dukun di anggap banyak membantu
menyelesaikan permasalahan mereka. Dalam satu RT bisa lebih dari 50 orang dukun
yang membuka praktiknya. Banyak pula yang menganggap bahwa dukun termasuk
budaya pedesaan dan peran mereka semakin memudar seiring berjalannya waktu dan
urbanisasi.
Pelacuran
juga tidak terlepas dari masalah di kampung Sukapakir dan sekitarnya. Meski
sudah ada program penertiban para pelaku hanya diusir dari tempat satu dan
kemudian berpindah lagi ke tempatlain.
0 Komentar